Friday, April 18, 2014 4:58

Kecil Itu Indah ala TAMZIS

Posted by permodalanbmt on Friday, July 3, 2009, 10:12
This item was posted in Inspirasi and has 0 Comments

Kata kata kecil itu indah memang tergantung posisi. Bisa jadi orang yang mengatakan itu karena memang dia berada di zona yang serba kecil. Kedua yang mengatakan memang berangkat dari yang kecil dan kini telah beranjak dan mungkin sudah besar. Sesuatu yang kecil pasti punya manfaat. Tidak sia-sia Alloh SWT menciptakan segala sesuatu.

Nyamuk dan lalat pun pasti punya manfaat. Dari nyamuk dan lalat jadi pelajaran. Jangan abaikan yang kecil, terbayangkah oleh manusia bagaimana kaki nyamuk bisa berbentuk dengan sempurna. Mungil tapI bisa tahan beban tubuh nyamuk. Sayapnya yang halus, bisa antarkan dirinya untuk leluasa terbang ke sana-sini.

Dalam kehidupan, sesuatu yang kecil ketika ditekuni sepenuh hati memiliki nuansa yang amat berarti. Bukankah semua yang besar dahulunya berawal dari kecil. Bukankah penemuan yang besar selalu dimulai dari hal yang sederhana. Nah, perjalanan TAMZIS, lembaga keuangan mikro syariah pun begitu.

Bermula dari keresahan betapa lintah darat begitu menggurita di Pasar Kretek. Kretek merupakan pasar yang paling ramai kedua di seluruh pasar kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Tahun 1992 tak ada lembaga formal yang berkiprah membiayai pedagang mikro kecil . waktu itu pemerintah pun terlanjur menyebut pedagang mikro kecil ini dengan PEGEL (Pengusaha Golongan Lemah). Sebuah nama yang merontokkan mental dan melumpuhkan semangat.

Kondisi ini nyaris tak berubah jika tak ada inspirasi dari kisah koperasi Ridho Gusti di Bandung. Lantas dengan adanya buku hasil seminar Nasional Prospek Bank Tanpa Bunga yang digelar FE UII Jogjakarta, motivasi dan inspirasi pun semakin menggebu-gebu. Sebab sebelumnya rekan-rekan sudah beryel-yel bahwa bank dengan bunga jelas haram. Maka “ini bisa kita lakukan”.

kertek3TAMZIS diawali dari garasi rumah. Sebagai lembaga keuangan, garasi itu pun disulap menjadi konter layaknya sebuah bank. TAMZIS pun diresmikan operasionalnya pada tahun 1992. Jangan tanya soal legal. Jangan pula tanya soal profesionalitas. Modal uang cash pun tak lebih dari Rp. 5 juta. Namun semangat, ya itulah semangat yang membara yang membuat ‘hidup ini terasa lebih hidup’ lagi. Dengan resminya kantor TAMZIS, hati pun terasa gemuruh tak tahan lagi untuk memulai langkah pertama kali di esok hari. Semangat membara ini ternyata memang modal luar biasa.

Menggelontorkan modal tidaklah sulit. Kalau rentenir bisa leluasa, mengapa TAMZIS tidak. Tetapi benturan justru di penerapan praktek syariah. masyarakat telah terbiasa menggunaka cara bunga. Mengenalkan pengertian bagi hasil membuat pedagang pasar menjadi berkerut pening. Akal pun diperah. Akhirnya keluar kiat sederhana, cara qardhul hasan pun dikenalkan, yakni pinjaman murni mengangsur tanpa adanya tambahan.

Yang menarik dari pengusaha mikro kecil adalah kepolosan dan tanggung jawabnya. Saat mereka mendapat untung mereka tak akan pernah melupakan jasa pihak yang membantu. TAMZIS yang membantu modal, maka TAMZIS pula yang layak menjadi bintang. Pengembalian mereka memang lancar. malah hampir semua pemimjam mengembalikan dengan menyisipkan kelebihan. Yang bahkan setelah dihitung-hitung sisipan itu terhimpun dalam jumlah yang yang cukup besar. Satu tahapan bisnis terlampaui.

Waktu berjalan pengalaman pun bertambah. Keuntungan peminjam pun terus berlipat-lipat. Sosialisasi bagi hasil pun berangsur angsur tetap dilakukan. Dengan keuntungan yang semakin besar, skema pinjaman murni tidak lagi cocok. Akhirnya cara itu diubah dengan skema bagi hasil. Kini bergulirnya waktu, para peminjam tak lagi pening dan kesulitan memahami konsep bagi hasil.

Bisnis pun semakin berjalan dan kebutuhan anggota terhadap pembiayaan semakin besar. Kini muncul masalah baru, bagaimana mengajarkan pentingnya menabung. jika pun menabung lebih banyak berupa tabungan non cash. Akhirnya tabungan mereka tidak berupa uang yang kebanyakan berupa barang seperti emas dan hewan peliharaan. Jika berupa uang biasanya lebih suka disimpan dibawah bantal atau dalam bentuk bumbung celengan.

Tahap sosialisasi untuk gemar menabung pun digencarkan. tantangan semakin keras karena yang dikenalkan juga konsep syariah yang tak mengizinkan bunga. Tantangan selanjutnya adalah kondisi nasabah yang merupakan pedagang yang serba melayani sendiri. Pegawai yang membantu paling-paling hanya 2 atau 3 orang. Mustahil mereka dapat meinggalkan dagangan untuk ke kantor TAMZIS. Apalagi hanya sekedar untuk menabung.

Mempertimbangkan soal tersebut, disusunlah pola baru agar nasabah bisa juga menabung. Polanya ‘jemput bola’. Para nasabah tak perlu tinggalkan dagangan karena justru mereka yang didatangi staf TAMZIS. Metode ‘jemput bola’ ini belum populer dikalangan micro finance. Malah mereka belum ada yang mempraktekkannya.

Metode ‘jemput bola’ ini punya beberapa keuntungan. Pertama mereka memang tak perlu tinggalkan barang dagangannya, oleh karena itu yang kedua mereka merasa dipermudahkan. Ketiga mereka langsung dapat mempelajari sistem tabungan yang ternyata punya manfaat dalam pemandirian. Saat mereka dalam kondisi darurat karena ada anggota keluarga yang sakit, terkena bencana atau bahkan kematian, mereka tak harus lagi berhadapan dengan para rentenir. Dengan tabungan itu mereka kini dapat berdiri tegak. dan hebatnya lagi mereka dapat belajar mengatur keuangan untuk diseuaikan kebutuhan usaha.

Akhirnya tak terasa 17 tahun TAMZIS sudah melangkah . kinerja yang perlahan lahan dibangun akhirnya memantik kepercayaan. Dan ternyata menjaga kepercayaan juga bukan perkara mudah. Cara menjaga kepercayaan ternyata juga bukan hanya soal kejujuran semata. Karena jujur saja memang tidak cukup. Untuk mempertahankan kepercayaan caranya hanya dengan meningkatkan pelayanan serta terus mematok standar keamanan lembaga keuangan mikro.

kantor-warung-buncitTAMZIS yang dimulai dari sebuah garasi, kini membuka membuka di 24 cabang. Di Jakarta cabang TAMZIS di jalan Warung Buncit malah bersebelahan dengan HSBC yang juga melayani micro finance. Entah HSBC nya yang tak tahu diri merambah sektor mikro, atau TAMZIS yang nekad menjajarkan diri dengan bank peringkat dunia. Dari modal yang hanya sekian juta rupiah, aset TAMZIS sekarang sudah melampaui Rp.100 milyar.

Melihat TAMZIS hari ini memang bisa terjebak pada fatamorgana. TAMZIS bukan hadir dan segera meraih sukses. Melihat TAMZIS hari ini harus disimak helai helai sejarahnya. Lembaga keuangan mikro ini dimulai dari sesuatu yang teramat kecil. Maka dengan kinerja yang terus melambungkan aset, yang kecil dulu itu kini Cuma ‘romantisme sejarah’ yang harus dicermati menatap TAMZIS telusurilah makna enerji didalamnya. Ada semangat. ada ruh yang menjadi jiwa pergolakan. Ruh itu adalah keinginan untuk mengisi sesuatu tang entah apakah itu juga bisa dibilang peradaban lembaga keuangan mikro. Jika pun tidak, TAMZIS hari ini adalah termasuk salah satu dari sedikit lembaga keuangan mikro papan atas di Indonesia.

Comments are closed.