Sunday, April 20, 2014 3:17

ANNUAL REPORT 2009 PT. PERMODALAN BMT VENTURA

Posted by Redaksi on Thursday, November 4, 2010, 16:26
This item was posted in Annual Report and has 0 Comments

Outreach

Pada 2009, kami telah mampu memberikan akses pembiayaan kepada 8.388 pengusaha mikro dan kecil. Ini sekaligus membuktikan bahwa kami dapat menjadi wahana pembiayaan yang efekif dan dibutuhkan dengan rata-rata portofolio per pembiayaan kepada pengusaha mikro dan kecil sebesar Rp. 3.329.318.

Informasi Umum Perusahaan

Nama : PT Permodalan BMT Ventura
Akta Pendirian : No. 6 Notaris Edi Priyono, SH., tertanggal 19 Desember 2006; No. 67 Notaris Edi Priyono, SH., tertanggal 29 Mei 2008.
Pengesahan : Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia No. W7-0256 HT. 01.01.TH 2007, tertanggal 14 Maret 2007; No. AHU-55964.AH.01.02.TH.2008, tertanggal 27 Agustus 2008.
Berita Negara : Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 10, Tertanggal 01 Februari 2008, No. 89, tertanggal 04 Novem­ber 2008.
SIUP : Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep-185/ KM.10/ 2007, tertanggal 25 September 2007.
NPWP : 02.623.379.1-061.000
TDP : Kepala Suku Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kodya Jakarta Selatan, No. 09.03.1.65.54431, tertanggal 18 Desember 2007.
Alamat : Equity Tower 27 Floor, SCBD Complex

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52 -53

Jakarta Selatan 12190, Indonesia

Asosiasi Profesi : Asosiasi Modal Ventura Indonesia (AMVI)
Web. : www.permodalanbmt.com
e-mail : cs@permodalanbmt.com

Financial Highlights

Based on Rama Wrenda Independent Auditor Report

(Registered Public Accountant – Jakarta)

Keterangan Maret 2010* 2009 2008 2007
Dalam (Rp)
Asset Total 40.304.175.770 31.772.339.913 21.382.880.367 8.190.794.185
Dana Bank dan Investor 29.906.311.452 21.579.046.970 12.084.049.731 150.580.800
Outstanding 36.018.171.957 27.924.774.730 17.899.134.662 357.710.198
Modal 10.397.864.317 10.193.292.942 9.298.830.636 8.040.213.385
Pendapatan 1.394.711.796 3.549.958.231 1.691.455.841 405.572.919
Laba Sebelum Pajak & Zakat 204.571.375 361.393.961 268.080.636 28.213.385
Off balance sheet 1.248.055.893 1.319.833.333 3.047.166.666 1.600.000.000
Dalam persen (%)
CAR 25,80% 32,08% 43,49% 98,16%
NPF (Gross) 1% 1,06% 0 0
ROA 0,51% 1,14% 1,25% 0,34%
ROE 1,97% 3,55% 2,88% 0,35%
BOPO 71% 75,77% 82,93% 118,88%
FDR 125% 132% 150% 0
Jumlah BMT Dibiayai 69 60 55 32

* Unaudited

PT. PERMODALAN  BMT  VENTURA
BALANCE SHEET
Maret 31,10

( Unaudited )

Dec 31,09

( Audited )

Dec 31,08

( Audited )

Dec 31,07

( Audited )

ASSETS
Current Assets
Cash and Equivalents Cash 2.769.172.270 2.568.757.204 1.015.252.057 3.798.837.500
Mudharabah Financing 4.337.278.608 26.264.431.089 15.452.026.691 3.576.710.198
Ijarah Financing 823.893.348 782.343.641 2.447.107.971 -
Murabahah Financing 357.000.000 378.000.000 - -
Musyarakah Financing 500.000.000 500.000.000 - -
Other Receivable to Related Parties 720.241.770 690.756.770 1.859.407.800 413.250.000
Prepaid Expences 253.413.715 189.828.448 127.585.375 103.359.890
Total Current Assets 39.760.999.712 31.374.117.151 20.901.379.894 7.892.157.588
Non Current Assets
Deffered tax assets 1.162.182 1.162.182 438.603 -
Fixed Assets – net off accumulated 184.381.064 179.986.542 196.463.680 186.786.597
Deffered Expenses – net off accumulated 241.073.244 100.814.469 201.371.372 94.750.000
Other Assets 116.559.568 116.259.568 83.226.818 17.100.000
Total Non Current Assets 543.176.058 398.222.761 481.500.473 298.636.597
Total Assets 40.304.175.770 31.772.339.913 21.382.880.367 8.190.794.185
LIABILITIES AND EQUITY
Liabilities
Wadiah 114.272.116 36.102.869 7.963.292 -
Tax Payable 97.307.593 118.836.987 80.337.450 5.580.800
Other Account Payable to Related Parties 0 35.000.000 135.000.000
Funded loans 9.670.055.556 21.400.055.556 11.857.222.222
Transaction no Sharia 8.985.920 8.361.291 1.772.356 -
Benefit employee liabilities 4.648.728 4.648.728 1.754.411 -
Accrued Expences 11.041.540 11.041.540 - 10.000.000
Total Liabilities 29.906.311.452 21.579.046.970 12.084.049.731 150.580.800
Equity
Capital stock 9.843.250.000 9.843.250.000 9.030.750.000 8.012.000.000
Retained Earnings 350.042.942 104.274.535 8.213.385 28.213.385
Net Income 204.571.375 245.768.407 239.867.251 -
Total Equity 10.397.864.317 10.193.292.942 9.298.830.636 8.040.213.385
Total Liabilities and Equity 40.304.175.769 31.772.339.913 21.382.880.367 8.190.794.185

Daftar Isi

Halaman
Informasi Umum Perusahaan 1
Financial Highlights 2
Daftar Isi : 4
Sambutan Komisaris Utama
Sambutan Direktur Utama
BAGIAN I Pendahuluan : 5

Visi, Misi, dan Tujuan Perusahaan

: 7
Keyakinan Inti dan Nilai Dasar : 8
Struktur Manajemen : 9
Profil Dewan Komisaris dan Direksi
Produk-produk : 9
Diagram Produk : 13
Proses Bisnis : 14
BAGIAN II Laporan Kerja 2009 : 15
Pencapaian (outreach)
Kinerja Keuangan
BAGIAN III Prospek Makro Ekonomi 2010 : 19
Kondisi Sosial : 23
Kondisi Lingkungan : 24
Keberadaan Teknologi : 24
BAGIAN IV Analisis Lingkungan Mikro : 25
BAGIAN V Proyeksi dan Rencana Bisnis 2010 : 30
Pencapaian (Outreach) : 32
Keuangan
Pemasaran : 32
Sumber Daya Insani
BAGIAN VI Penutup : 33
Lampiran

Sambutan Komisaris Utama

Assalammuálaikum wr. wb.

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah Swt, yang dengan karunia dan anugerah-Nya, sampai hari ini PT Permodalan BMT Ventura (PBV) masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk mewujudkan mimpi besarnya menjadi salah satu pusat layanan jasa keuangan mikro syariah.

Saat PBV memasuki usia yang ke-4 ini, satu persoalan besar yang masih harus diselesaikan PBV adalah dari ‘gerakan menuju profesionalisme’. Bagaimanapun gerakan murni dari bawah adalah sesuatu. Yang harus disyukuri, sebagian BMT telah mandiri di kaki sendiri.

Namun kemandirian ini ternyata juga mencemaskan. BMT yang jadi anggota PBV sebagian berada di zona nyaman. Maka saat diarahkan, saat disinerjikan, saat  diharap untuk bisa berbuat lebih, muncul pertanyaan: “Untuk apa? Toh kita sudah berkiprah tanpa anjuran ini itu”. BMT memang sudah sama-sama kerja tapi sulit bekerja sama.

Kecemasan lain, ada kemandirian yang semu sifatnya. Cuma berburu rupiah, grusak grusuk sana sini, berharap proyek yang akhirnya tak tehindari saling sikut. Ini lembaga keuangan yang tidak sesederhana yang lain. Tradisi sesepuh yang biasa jadi ‘kutu loncat’ memang memikat. “Mau dibilang apa kek, yang penting kantong terisi”.

Bangsa ini memang tengah menghadapi masalah besar. Untuk menyatakan masalah saja sudah jadi persoalan besar. Yang mengingatkan malah dianggap ‘sakit hati tak kebagian proyek’. Begitu juga dengan ‘kelatahan syariah’. Sinerji syariah seolah ‘menggantang asap’. Fastabihul khairat digebyah uyah sama nistanya dengan persaingan dalam bisnis konvensional.

PBV bukan sekadar wadah untuk bicara likuiditas. Juga bukan untuk gagah-gagahan bahwa yang grass root pun bisa ‘berdiri sama tinggi’. Bagi kita, PBV jadi ajang pembuktian, bisakah kita berjamaah, bersinerji untuk lakukan hal yang lebih besar, lebih luas, lebih kuat dan lebih manfaat.

Ruh atau jiwa ‘dari gerakan jadi profesional’, justru terletak pada kerja sama, pada sinerjitas, dan pada kejamaahan. Kecil memang indah, tapi mudah ditikam. Hikmah sapu lidi jadi ibrah. Lihat, riba yang dikelola profesional terbukti menekuk dunia. Mereka tak pernah puas untuk melahap gunung-gunung emas yang lain. Seburuk apapun, itulah cita-cita mereka.

Kita? Perut tak lagi lapar, selesai sudah perjuangan. Kita terbahak dalam sumringahnya asset, rendahnya NPL dan sehatnya CAR. Itu cuma memikat di CV, di seminar dan di batu nisan. Muslim disibuki berbagai reputasi, kesuksesan dan kenikmatan zona nyaman. Mu’min selalu resah akan apa yang dilaporkan malaikat pada Allah swt tentang dirinya.

Wassalammuálaikum wr. wb.

Erie Sudewo

Sambutan Direktur Utama

Assalammuálaikum wr. wb.

Puji syukur kehadirat Allah Swt. atas segala kekuatan yang diberikan-Nya kepada kita semua untuk tetap istiqomah di dalam jalan pemberdayaan ekonomi mikro dan kecil. Shalawat dan salam kita haturkan kepada teladan kita Nabi besar Muhammad Saw. Rasul pembawa perubahan wajah dunia menjadi lebih manusiawi.

Tanpa terasa perjalanan PT Permodalan BMT Ventura (PBV) sudah memasuki tahun ke-4. Di dalam tahun-tahun yang telah lewat banyak hal yang telah dapat kami pelajari,  sehingga membuka inspirasi tentang banyak hal yang harus terus kami perjuangkan untuk dicapai. Apapun hasilnya kewajiban kami adalah mengusahakan sepenuh hati, bertawakal, lalu mensyukuri apapun yang Allah Swt. berikan.

Sebagai lembaga bisnis di bidang keuangan mikro dan kecil yang berbasis Syariah yang ingin terus tumbuh dan berkembang, tentu nilai kemanfaatan atas keberadaan perusahaan ini harus diletakkan sebagai pilar utama. Hal-hal seperti jumlah masyarakat yang mendapatkan manfaat dari akses pembiayaan yang diberikan, penerapan atas nilai-nilai kejujuran, tanggung-jawab dan produktifitas yang meningkat dari pembiayaan yang diberikan harus menjadi parameter yang kami perhatikan melebihi parameter finansial semata. Jikalau parameter tersebut berkecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun tentu berarti bisnis ini semakin dapat memberikan manfaatnya bagi masyarakat. Dan sebagai bagian dari proses untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat, tentu kerja besar ini bagi kami justru baru mulai, oleh karena itu segala kekurangan yang ada sudah seharusnya akan kami jadikan pelajaran yang berarti.

Patut disyukuri, kepercayaan investor telah makin meningkat yang memungkinkan kemanfaatan perusahaan inipun memungkinkan untuk dikembangkan, dari kinerja keuangannya dapat pula di lihat bahwa perusahaan cukup prospektif dan memberikan keuntungan yang menggembirakan.

Beberapa sinergi dengan perbankan syariah nasional telah menunjukkan bahwa pola kerja yang dilakukan dapat meningkatkan kinerja lembaga keuangan syariah memberikan akses pembiayaan kepada pengusaha mikro, sehingga kerjasama ini ingin kita tingkatkan di tahun-tahun mendatang.

Annual Report ini adalah sarana kami menjalin komunikasi dengan melaporkan kinerja kami dan merupakan wujud pertanggung jawaban kami kepada para pemegang saham (shareholder) dan masyarakat (stakeholder). Beberapa angka yang tersaji dalam laporan ini dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengukur progress yang telah dilakukan meskipun diyakini pula bahwa hal tersebut bukanlah sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk melakukan evaluasi diri. Maka berdasarkan laporan yang kami sajikan kepada khalayak ini maka kami bisa mengatakan bahwa kinerja kami selama tahun 2009 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dengan melihat kinerja tahun 2009 ini, maka yang patut dilakukan adalah semakin menjaga dan meningkatkan kepercayaan yang telah diperoleh dengan melakukan perbaikan terus menerus atas tata kelola perusahaan menuju Lembaga Pembiayaan Syariah yang fokus pada pembiayaan mikro paling atraktif di Indonesia di tahun 2010 ini. Oleh karena itu kami mengundang seluruh Investor baik dari Perbankan, Institusi, maupun dari pribadi-pribadi untuk mencerahkan masa depan usaha mikro Indonesia

Be Right Be Bright your Investment

Wassalammuálaikum wr. wb.

Saat Suharto Amjad

B A G I A N   I

Pendahuluan

Permodalan BMT Ventura (PBV) adalah lembaga pembiayaan berbadan hukum ventura yang telah mengantungi izin operasional dari Menteri Keuangan yang diterbitkan oleh BAPEPAM-LK dengan nomor : Kep-185/ KM.10/ 2007, tertanggal 25 September 2007. Berjalan dan dikelola dengan prinsip-prinsip syariah, PBV dibentuk dengan maksud untuk menjadi lembaga keuangan bagi pengusaha mikro dan Kecil.

Salah satu fokus kerja kami adalah menjadi lembaga pembiayaan kepada para pengusaha mikro dan kecil yang secara bisnis feasible akan tetapi masih non bankable. Dalam penyelanggaraannya kami menggandeng mitra strategis bernama Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) yang merupakan lembaga keuangan mikro syariah berbentuk Koperasi. BMT inilah yang berfungsi sebagai agen penyaluran pembiayaan di berbagai daerah.

Alhasil, pada 2009 PBV telah memberikan pelayanan pembiayaan kepada 8,388 orang pengusaha dengan total portofolio pembiayaan sebesar 27,9 miliar rupiah. Pembiayaan tersebut disalurkan melalui 60 BMT yang tersebar di beberapa daerah seperti; Jawa timur, Jawa Tengah, Jawa barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, wilayah sekitar Jabodetabek dan Banten. Sebuah capaian yang luar biasa mengingat efek turunan dari berdayanya pengusaha mikro itu bila ditinjau dari meningkatnya sisi produktifitas kerja, kemampuan menabung, pendidikan, dan kesehatan.

Di sisi yang lain, selama tiga tahun perjalanan, meskipun bukan parameter yang utama namun kinerja keuangan PBV sebagai salah satu capaian patut mendapatkan apresiasi. Kinerja keuangan tersebut meliputi profiabilitas perusahaan, pertumbuhan aset, tingkat kepercayaan investor, dan posisi Non Performing Finance (NPF).

Kami yakin dengan melihat capaian-capaian yang menggembirakan ini, akan menjadi bukti bahwa landasan bisnis kami cukup kuat. Selain itu juga membuat kami semakin percaya diri untuk melangkah di 2010 dan di tahun-tahun yang akan datang.

Visi, Misi, dan Tujuan Perusahaan

Visi Menjadi pusat pelayanan jasa keuangan bagi pengusaha mikro, kecil dan menengah melewati jaringan Baitul Maal wat Tamwil (BMT).
Misi 1. Turut serta mewujudkan masyarakat produktif.
2. Mendayagunakan investasi untuk mengembangkan pengusaha mikro, kecil dan menengah, bekerjasama dengan jaringan BMT sehingga investasi lebih produktif.
3. Turut serta membangun dan mengembangkan sistim ekonomi syariah dengan menebarkan nilai-nilai syariah kepada para stakeholder dan menciptakan iklim yang baik bagi berkembangnya lembaga keuangan syariah.
4. Menyebar-luaskan kepekaan sosial dan kepedulian.
5. Mendorong terciptanya kinerja unggul  BMT.
6. Menciptakan sistem kerja yang produktif, efisien dan inovatif.
Tujuan 1. Mendidik masyarakat untuk mengelola keuangannya dengan baik, sehingga pendapatannya lebih besar daripada tingkat konsumsinya.
2. Melakukan kerjasama investasi kepada investor dan pengusaha mikro, kecil dan menengah secara aman, profesional, serta saling menguntungkan.
3. Mendidik stakeholder untuk memahami dan tunduk kepada prinsip-prinsip syariah.
4. Menyebar-luaskan dan mendorong perusahaan dan BMT-BMT dalam jaringan pembiayaan untuk mengambil inisiatif pada kegiatan-kegiatan dan program nyata untuk mereduksi kemiskinan dan kepedulian terhadap masyarakat miskin.
5. Meningkatkan rasio modal BMT terhadap dana pihak ketiga dengan melakukan penempatan modal di BMT.
6. Menjaga likuiditas BMT.
7. Mengembangkan kinerja yang unggul pada BMT dengan menilai be­be­rapa hal sebagai berikut:
-          Ukuran rasio keuangan.-          Performance manajemen serta kelembagaan, disesuaikan sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku dan Standart Operational Procedure (SOP) yang ditetapkan.

-          Pelayanan BMT kepada anggotanya.

8. Memberikan rating lembaga terbaik pada BMT.
9. Memberi manfaat bagi stakeholder perusahaan berupa:
-         Memberikan kemudahan memperoleh modal dan pendanaan bagi BMT, serta keuntungan-keuntungan lainnya sehingga dapat ber­kem­bang­ penuh­ barokah.-         Memberikan keuntungan dan atau bagi hasil yang kompetitif bagi Investor.

-         Memberikan penambahan pendapatan negara berupa pajak.

-         Memberikan kesejahteraan yang layak bagi Karyawan.

-         Membuka lapangan pekerjaan dan turut andil dalam usaha perbaikan kondisi sosial bagi masyarakat.

Keyakinan Inti dan Nilai Dasar

Keyakinan Inti adalah suatu keyakinan bersama karyawan (people) di dalam perusahaan dalam meraih visi dan misi, serta mencapai tujuan-tujuan perusahaan. Keyakinan-keyakinan tersebut terumuskan dalam:
Falah : Kami berkeyakinan bahwa perusahaan adalah sarana untuk mewujudkan kesuksesan/kebahagiaan hakiki, yakni kebahagiaan duniawi dan ukhrawi (felicity).
Mujahadah : Kami berkeyakinan bahwa kesuksesan dapat dicapai dengan usaha yang tekun, sungguh-sungguh dan pantang  menyerah (perseverance and patience).
Jamaah : Kami berkeyakinan bahwa kesuksesan dapat dicapai dengan bekerjasama secara organis dan sinergis setiap karyawan dalam semua bidang (teamwork).
Islah : Kami beryakinan bahwa keunggulan perusahaan  diperoleh dari perbaikan serta inova­si-inovasi (innovation).
Ibadah : Kami berkeyakinan bahwa keunggulan perusahaan diperoleh melalui  kecintaan terhadap pekerjaan dan pelayanan sepenuh hati (services-excellent).

Nilai Dasar adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh perusahaan yang menjadi kebanggaan dan selalu dijaga untuk mengawal setiap keputusan yang akan telah, sedang dan akan diambil. Nilai Dasar tersebut dijabarkan sebagai berikut:

Fathonah : Perusahaan menjunjung tinggi sikap dan prilaku profesional dengan mendahulukan karakter positif, terbuka, dan terus belajar (Professional).
Tabligh : Perusahaan menjunjung tinggi komunikasi yang baik untuk menjalin hubungan harmonis dengan semua pihak sehingga meningkatkan pemahaman dan kepercayaan (Communicative).
Amanah : Perusahaan menjunjung tinggi kejujuran, integritas, accountabilitas serta tanggung jawab (Trust).
Maslahah : Perusahaan mengutamakan kemanfaatan optimal dalam setiap peng­ambil­an keputusan (Benefit).

Struktur Manajemen

Profil Dewan Komisaris dan Direksi

(foto & Keterangan) di folder yang lain

Jajaran Karyawan PT Permodalan BMT Ventura

(foto& Keterangan di Folder yang lain

Produk – produk

1. Financial Services
a. Investment : Produk ini didedikasikan untuk membiayai pengusaha mikro dan kecil melewati jaringan BMT, beberapa produk investasi yang telah kami keluarkan: Temporary Placement, equity base Placement dan Share.
b. Financing : Produk ini merupakan produk pemberian fasilitas pembiayaan kepada sektor usaha mikro dan kecil yang disalurkan melalui mitra BMT.
c. Linkage Program : Produk ini merupakan produk pembiayaan dari pihak ketiga (seperti: perbankan) kepada BMT. Dalam produk ini posisi kami adalah pihak mitra Bank yang melakukan supporting, monitoring/ evaluating, serta guarantor atas pembiayaan yang akan diberikan perbankan atau lembaga keuangan lainnya kepada BMT.
2. Technical Assistance
a. Capacity Building : Produk ini untuk meningkatkan kemampuan BMT maupun pengusaha mikro dan kecil dari segi kapasitas dan kualitas.
b. Rating Agency : Produk ini menjadi penting sebagai guidance bagi pengambilan keputusan yang akan berinvestasi maupun yang akan melakukan kerjasama program, karena dalam produk ini kami melakukan peratingan atas keberadaan BMT mitra.
c. Monitoring Agency : Produk ini digunakan sebagai peringatan dini (early warning) untuk memantau kondisi BMT mitra dan pengusaha mikro dan kecil.
3. Research and Innovation : Kami melakukan riset-riset yang berkaitan dengan pengusaha dan usaha mikro dan kecil terutama yang berkaitan dengan keuangan syariah. Selain itu, kami berusaha untuk terus me­ngem­bang­kan inovasi baru yang berkaitan dengan produk keuangan mikro dan teknologi yang berguna bagi pengembangan sektor mikro dan kecil.
4. Networking : Kami menjalin jaringan kerja dengan BMT-BMT di seluruh wilayah Indonesia. Melakukan pembinanaan dan pengembangan. Sehingga keberadaan produk ini untuk mempermudah kerjasama-kerjasama, baik program, pem­biaya­­an maupun investasi; antar BMT, BMT dengan pihak lain, atau menghubungkan bisnis antar anggota BMT, maupun menjalinkan anggota BMT dengan pihak-pihak lain.

Diagram Produk

Proses Bisnis


BAGIAN   II

Laporan Kerja 2009

aporan kerja 2009 ini berisi dua bagian utama yaitu Outreach atau pencapaian-pencapaian berupa manfaat yang telah di peroleh oleh perusahaan hingga tahun 2009  ini, dan laporan kinerja keuangan yang berisi progres perusahaan di bidang keuangan, selengkapnya sebagai berikut:

Pencapaian (Outreach)

  1. AKSESIBILITAS, Pencapaian yang membahagiakan adalah bahwa kami telah mampu  memberikan akses pembiayaan kepada 8.388 pengusaha mikro dan kecil. Ini sekaligus membuktikan bahwa kami dapat menjadi wahana pembiayaan yang efekif dan dibutuhkan dengan rata-rata portofolio per pembiayaan kepada pengusaha mikro dan kecil sebesar Rp. 3.329.318.

  1. PRODUKTIF, Dilihat dari sektor usaha dan jenis usaha yang menerima pembiayaan dari kami melalui BMT-BMT merupakan pembiayaan produktif karena digunakan untuk menambah modal kerja usaha atau produksi. Sebagaimana dapat dilihat pada diagram berikut:

Sektor perdagangan berada di urutan pertama daftar penerima manfaat pembiayaan (63%). Perdagangan yang dimaksud disini adalah pedagang di pasar tradisional, dimana pada umumnya bahan dagangan yang mereka perjual belikan merupakan barang-barang yang terhubung langsung dengan proses produksi seperti pertanian, peternakan atau industri rumahan.

Disusul di urutan kedua adalah sektor jasa, seperti tukang cukur, tukang ojek, dan jenis jasa-jasa mikro lainnya (22%). Kemudian secara berturut-turut sektor pertanian sebanyak (7%), sektor industri (6%),  dan untuk kebutuhan konsumsi (2%).

  1. RISK MITIGATION, seperti kita ketahui bersama, dalam hal apapun melakukan mitigasi terhadap resiko adalah sesuatu yang mutlak. Untuk memperkecil resiko maka pembiayaan yang dikelola “disebar” untuk satuan usaha dalam spektrum yang luas. Pada 2009 yang lalu telah kami berikan pembiayaan kepada 60 BMT dengan total outstanding Rp. 27.924.774.730.

Agar resiko makin dapat dikelola, dan lingkup manfaat makin meluas, maka pada tahun ini terjadi penambahan BMT baru yang akan menyalurkan pembiayaan yaitu di daerah Banten dan Jawa Barat, sehingga dapat dilaporkan distribusi pembiayaan menurut area propinsi sebagai berikut:

Wilayah Jumlah BMT Outstanding Posentase
Yogyakarta 6 Rp.    3.317.083.332.67 11,67%
Jawa Tengah 47 Rp.  22.432.428.997,77 78,92%
Jawa Timur 1 Rp.    2.208.333.333,33 7,77%
Banten – Jawa Barat 6 Rp.       466.666.666,67 1,64%

Kinerja Keuangan

  1. ASET, patut kita syukuri bahwa pertambahan aset untuk tahun ini mengalami peningkatan secara signifikan. Angka-angka kinerja keuangan juga mengindikasikan kepercayaan investor maupun perbankan syariah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk kinerja keuangan secara umum seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:

Keterangan Maret 2010* 2009 2008 2007
Dalam (Rp)
Asset Total 40.304.175.770 31.772.339.913 21.382.880.367 8.190.794.185
Dana Bank dan Investor 29.906.311.452 21.579.046.970 12.084.049.731 150.580.800
Outstanding 36.018.171.957 27.924.774.730 17.899.134.662 357.710.198
Modal 10.397.864.317 10.193.292.942 9.298.830.636 8.040.213.385
Pendapatan 1.394.711.796 3.549.958.231 1.691.455.841 405.572.919
Laba Sebelum Pajak & Zakat 204.571.375 361.393.961 268.080.636 28.213.385
Off balance sheet 1.248.055.893 1.319.833.333 3.047.166.666 1.600.000.000
Dalam persen (%)
CAR 25,80% 32,08% 43,49% 98,16%
NPF (Gross) 1% 1,06% 0 0
ROA 0,51% 1,14% 1,25% 0,34%
ROE 1,97% 3,55% 2,88% 0,35%
BOPO 71% 75,77% 82,93% 118,88%
FDR 125% 132% 150% 0
Jumlah BMT Dibiayai 69 60 55 32

*Unaudited

Dapat dilihat bahwa peningkatan aset total terjadi sebesar 48,6%, bahkan pada periode Maret 2010 sudah mencapai Rp. 40.304.175.770. Dana perbankan dan investor yang menjadi parameter tingkat kepercayaan pihak eksternal terhadap perusahaan ini juga meningkat sebesar 78,6%, pada Maret 2010 telah berubah lagi menjadi Rp. 29.906.311.452. Sedangkan untuk outstanding tahun ini meningkat sebesar 56%, pada Maret 2010 menjadi Rp. 36.018.171.957.

Modal, pendapatan, dan laba sebelum pajak dan zakat di 2009 secara berurutan meningkat sebesar 9,6%, 112,3%, dan 18,5%. Pada periode Maret 2010 mengalami perubahan lagi menjadi Rp. 10.397.864.317, Rp. 1.394.711.796, dan Rp. 204.571.375.

Pada tahun ini pihak perbankan lebih memilih untuk melakukan pembiayaan secara langsung dan tidak menambah plafon dengan program channeling sehingga untuk off balance sheet mengalami penurunan sebesar 56,7%. Penurunan ini sebetulnya bukan merupakan berita buruk bagi kami. Justru sebaliknya, penurunan ini merupakan bukti keberhasilan kami dalam program executing di tahun-tahun sebelumnya. Program executing dirasakan lebih mudah dan sederhana dibandingkan dengan model program channeling yang mengharuskan perbankan melakukan assesment dan pemrosesan untuk masing-masing obyek pembiayaan.

Ini juga bisa berarti bahwa pihak perbankan telah meningkatkan kepercayaannya kepada kami dengan memberikan tambahan portofolio pembiayaan mikro melalui kami. Dengan demikian keberadaan kami menjadi sangat strategis untuk menjadi mitra bank dalam menyalurkan pembiayaan mikronya.

  1. PEMBIAYAAN, portofolio pembiayaan dan sisa outstanding mengalami peningkatan yang konsisten yang berada di atas 100%. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan mikro melewati BMT ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terbukti dari permintaan pembiayaan oleh BMT ke kami yang masih sangat tinggi.

  1. RASIO PERMODALAN, tahun ini kami memutuskan untuk belum perlu menambah modal secara intensif, karena rasio permodalan di atas 10% bagi suatu lembaga keuangan masih dianggap aman, sehingga sejalan dengan peningkatan aset perusahaan, maka struktur permodalan (CAR) kami mengalami penyesuaian sebesar 26,2% dari tahun sebelumnya sehingga menjadi 32,08%.

  1. RASIO PRODUKTIFITAS DANA, apabila ditilik dari ROA, tahun ini perusahaan mengalami sedikit penurunan sebesar 9,3%. Penurunan ini lebih disebabkan karena peningkatan aset terjadi di akhir tahun, sehingga belum dibarengi dengan pencetakan keuntungan yang optimal. Namun demikian, untuk ROE meningkat 23%, yaitu menjadi 3,55%. Dari yang dihasilkan tahun ini maka kami tetap optimis bahwa di tahun mendatang tingkat produktifitas dana akan jauh lebih baik lagi.

  1. EFISIENSI, indikator efisiensi yang ditunjukan oleh prosentase BOPO perusahaan maka tahun ini kami menjadi lebih efisien dengan penurunan BOPO sebesar 8,6% menjadi 75,77% dari tahun sebelumnya 82,93%. Apabila tingkat efisiensi ini terus terjadi maka kami optimistis dapat menghasilkan laba yang lebih tinggi bagi perusahaan.

  1. PENYERAPAN DANA, Angka Finance to Deposit Ratio (FDR) di tahun ini masih berada di atas 100%. Ini menunjukan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap dana dari perusahaan sangat tinggi. Selain itu hal ini juga menunjukan bahwa kemampuan perusahaan dalam melakukan fungsi intermediasi cukup besar, terbukti lebih dari 100% dana placement kepada perusahaan langsung terserap.

  1. PEMBIAYAAN BERMASALAH, di antara capaian yang menggembirakan di tahun ini, kami memiliki cacatan negatif dalam pembiayaan bermasalah. Setelah dua tahun berturut-turut membukukan Zero Non Performing Finance, di 2009 ini NPF kami menjadi 1,06%. Meskipun angka pembiayaan bermasalah masih relatif kecil akan tetapi perusahaan ingin berupaya untuk tetap meminimalisir resiko. Untuk itu di tahun yang akan datang kami akan melakukan kerjasama pengawasan dan mitigasi melalui Asosiasi-asosiasi BMT setempat.

  1. KEPERCAYAAN, sepanjang 2009 kepercayaan perbankan dan investor terhadap perusahaan tampak meningkat. Terlihat dari total aset yang mencapai Rp.  31.772.339.913 tersebut bersumber dari Modal sebesar Rp. 10.193.292.942 (32%), dari Investor (perorangan maupun institusi) mencapai Rp. 9.890.553.412 (31%), dan selebihnya sebesar Rp. 11.688.493.558 (37%) bersumber dari perbankan.

  1. PROFITABLE, Tingkat bagi hasil yang kami berikan relatif lebih kompetitif dibandingkan dengan suku bunga acuan perbankan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI rate), rata-rata berada equivalent 12,04% per tahun. Berikut grafik yang menunjukan trend bagi hasil kami.

B A G I A N   III

Prospek Makro Ekonomi 2010

rakiraan kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2010 dapat di simak di banyak media pada akhir tahun lalu. Sebagian isi economic outlook tersebut berasal dari pemberitaan serta ulasan dari diskusi ilmiah dan tulisan khusus. Baik tulisan yang merupakan pandangan pribadi dari pakar atau pengamat ekonomi, maupun yang dipublikasikan sebagai pandangan lembaga atau organisasi.

Patut dicatat bahwa variabel yang paling dominan dalam kebanyakan analisis pada dua tahun terakhir justeru terkait kondisi eksternal dari perekonomian Indonesia. Diantaranya adalah: dinamika perdagangan dunia, harga komoditas tertentu di pasar internasional, kondisi perekonomian negara maju dan negara yang punya hubungan ekonomi penting dengan Indonesia, serta arus modal dan uang di pasar global. Ada juga yang memberi tambahan analisis mengenai risiko politik di dalam negeri, ataupun oppurtinity terkait tingkat kestabilan yang tinggi.

Pemerintah pun memiliki pula suatu economic outlook, yang tercantum dalam Nota Keuangan sebagai pengantar Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Setelah dibahas dan setujui DPR, yang bisa mengalami sedikit perubahan beberapa variabel diantaranya, maka diputuskan menjadi APBN, diikuti dengan revisi atas Nota Keuangan.

Secara ringkas, prediksi tersebut diwakili oleh apa yang biasa disebut sebagai asumsi dasar ekonomi makro, dalam RAPBN dan APBN. APBN 2010 yang ditetapkan pada akhir Oktober 2009, mencantum asumsi makroekonomi sebagai berikut: pertumbuhan ekonomi  sebesar 5,5%; tingkat inflasi sebesar 5,0%; rata-rata kurs adalah Rp10.000/USD; Neraca Pembayaran Indonesia surplus, cadangan devisa bertambah; rata-rata suku bunga SBI 3 bulan sebesar 6,5 %; dan Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar USD 65 per barel dengan lifting sebanyak 0,965 juta barl per hari.

Nota Keuangan menyebut ada beberapa tantangan yang menghadang pada tahun 2010. Diantaranya berupa: program stimulus ekonomi yang belum optimal, ketatnya likuiditas global, dan meningkatnya harga minyak dan beberapa komoditi di pasar internasional. Diakui pula tantangan lain yang lebih bersifat domestik, yakni tingginya tingkat pengangguran dan angka kemiskinan, serta infrastruktur tak memadai.

Dengan asesmen yang demikian, Pemerintah menetapkan arah kebijakannya dalam mengelola perekonomian, yaitu: menjaga stabilitas ekonomi makro, meningkatkan pembangunan infrastruktur dan mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. Secara lebih khusus, Pemerintah mengaku akan mengutamakan program jaminan sosial dan peningkatan kapasitas usaha skala mikro dan kecil serta koperasi serta program-program lainnya.

Sejalan dengan tema pembangunan nasional yaitu “Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat”, kebijakan alokasi anggaran belanja Pemerintah pusat dalam tahun 2010 disebut akan diarahkan kepada upaya mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memulihkan perekonomian, menciptakan dan memperluas lapangan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, dan mengurangi kemiskinan. Prioritas diberikan pada: (1) meneruskan/meningkatkan seluruh program kesejahteraan rakyat (PNPM, BOS, Jamkesmas, Raskin, PKH dan berbagai subsidi lainnya); (2) melanjutkan program stimulus fiskal, melalui pembangunan infrastruktur, pertanian dan energi, serta proyek padat karya; (3) mendorong pemulihan dunia usaha, termasuk melalui pemberian insentif perpajakan dan bea masuk; (4) meneruskan reformasi birokrasi; (5) memperbaiki Alutsista; serta (6) menjaga anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN.

Pihak otoritas ekonomi lainnya, yakni Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan perbankan, terlihat lebih konservatif dalam memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2010. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2010 berada di kisaran 5,0-5,5%, yang akan dimotori terutama oleh kegiatan ekspor dan investasi dari sisi permintaan. Namun diakui adanya downside risks terutama jika akselerasi perbaikan volume perdagangan dunia tidak secepat yang diperkirakan.

Belakangan, Bank Indonesia memang lebih sering mengeluarkan estimasi yang lebih realistis dan secara cepat membuat revisi, khususnya yang terkait dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan dalam hal pengendalian inflasi yang menjadi tugas pokoknya, Bank Indonesia amat yakin bisa mengarahkannya ke tingkat yang sejalan dengan harapan Pemerintah.

Di luar otoritas ekonomi, ada banyak economic outlook yang dikemukakan. Yang paling mudah diperbandingkan antar ramalan itu adalah mengenai prakiraan pertumbuhan ekonomi karena memang dijadikan sentral pembahasan masing-masing. Sebagai contoh, IMF mengemukakan angka 4,8 %, sedang kebanyakan ekonom Indonesia menyebut angka di atas 5 %. Ada juga pendapat yang cukup menarik dari ekonom Faisal Basri yang mengatakan harus tumbuh 6 %. menurutnya, jika 5,5 % berarti tidak ada keinginan untuk kerja keras dari Pemerintah.

Bagaimanapun, ada kesamaan yang menonjol dalam semua economic outlook tersebut. Ada optimisme bahwa perekonomian Indonesia akan lebih baik, dan secara lebih khusus disebutkan angka pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Argumen utamanya pun sama, yakni karena adanya pemulihan perekonomian global, khususnya di negara-negara industri maju. Secara lebih teknis, amat kuat keyakinan pulihnya kondisi ekspor-impor di berbagai negara, yang berarti perdagangan dunia bisa mendongkrak ekspor Indonesia. Arus modal dan keuangan internasional pun diyakini akan lebih stabil, dan pada saat bersamaan, kondisi dan rating Indonesia yang terkait dengan itu cukup baik. Singkatnya, faktor-faktor eksternal diperkirakan akan amat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010.

Dilihat dari sisi domestik, konsumsi sebagai motor pertumbuhan ekonomi diyakini masih akan meningkat cukup pesat. Ditambah dengan sudah adanya rencana investasi di bidang infrastruktur yang sedang dan mulai direalisasikan tahun 2010, baik dari pihak swasta maupun pemerintah. Meskipun mulai goyah selama beberapa minggu terakhir, sampai dengan sebulan lalu, stabilitas politik diyakini sebagai faktor positif. Majalah The Economist edisi September 2009 menyebutnya bersama dengan tekad anti korupsi sebagai variabel amat positif dari Indonesia.

Sebulan terakhir ini, sedikit di luar dugaan kebanyakan economic outlook yang sudah dipublikasikan, risiko politik di dalam negeri cenderung meningkat. Ketidakstabilan politik, meski hanya berupa konflik antar elit politik dan atau birokrasi, dianggap memiliki pengaruh signifikan terhadap perekonomian. Terutama terkait dengan kemungkinan akan adanya gangguan terhadap iklim investasi dan kepastian berusaha dalam bisnis.

Pencermatan atas kebanyakan economic outlook tersebut akan membawa kepada salah satu kesimpulan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih amat bergantung kepada dinamika ekonomi global. Rekomendasi yang diberikan pun terkait dengan optimalisasi transaksi internasional, baik dalam soal arus barang maupun arus modal. Sulit dihindari kesan bahwa faktor domestik lebih sebagai “bumper” belaka. Pengaman, jika keadaan global sulit, maka ada faktor pengaman agar Indonesia tidak sampai hancur perekonomiannya. Untuk tumbuh dan menjadi sejahtera, faktor eksternal sementara ini masih dianggap lebih signifikan.

Bagaimanapun, kalangan bisnis tampak cukup optimis menghadapi tahun 2010. Antara lain diindikasikan oleh rencana bisnis yang diumumkan serta pernyataan para pengusaha dan pimpinan asosiasi berbagai industri. Target bisnis yang dikemukakan tak tampak sebagai sikap mengahadapi krisis lagi, melainkan sudah mengasumsikan perekonomian yang berjalan normal.

Sementara itu, indikasi perbaikan juga terlihat pada industri perbankan sebagai sumber utama pembiayaan dan sebagai aspek penting dalam menunjang transaksi bisnis. Kondisi perbankan memang masih ditandai dengan upaya konsolidasi internal atau pemulihan, terutama terkait dengan sempat meningkatnya kredit bermasalah beberapa waktu lalu. Ada pula faktor yang mungkin akan sedikit berpengaruh pada kinerja perbankan tahun ini, yakni kasus skandal Bank Century. Semua faktor itu diperkirakan akan membuat pihak perbankan akan tetap berhati-hati dalam menjalankan fungsi penyaluran kreditnya, meskipun ancaman krisis global dinilai telah lewat.

Prioritas pengembangan kredit bagi usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) telah menjadi komitmen Bank Indonesia dan Pemerintah. Sejauh yang dikemukakan kepada publik, prioritas itu pun didukung oleh rencana bisnis bank-bank besar. Sikap semacam ini didukung oleh kinerja kredit bagi UMKM yang justeru lebih baik dibanding dengan kredit non MKM pada kondisi perbankan yang memburuk terkena dampak krisis global. Secara lebih khusus, kredit mikro dianggap akan menjadi tumbuh lebih pesat dibanding kredit lainnya. Dari dilihat dari sisi kredit bermasalah, sekalipun  juga turut meningkat, kondisi kredit UMKM jauh lebih baik dari kredit korporasi.

Pengembangan kredit UMKM diharapkan mampu semakin mendorong pemberdayaan UMKM, khususnya usaha mikro. Usaha mikro diyakini dan sebagian memang telah terbukti dapat berperan besar dalam upaya penanggulangan kemiskinan, Diantaranya melalui penciptaan lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha. Bahkan, cara ini merupakan penanggulangan yang relatif efektif dan berkelanjutan (sustainable).

Dilihat secara makro ekonomi, terlebih pada saat ada badai krisis, UMKM justru mampu menjadi penopang ekonomi nasional. Sektor UMKM masih tetap menjadi tumpuan penyerapan tenaga kerja baru. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto dan pertumbuhan ekonomi pun selalu bisa diandalkan.

Di sisi lain, perbankan umum masih menghadapi kendala dalam penyaluran kredit untuk UMKM dan mikro. Kendala tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

  • Tidak semua bank umum memiliki jaringan yang menyebar ke pelosok daerah.
  • Pengetahuan tentang karakter, kondisi dan modal usaha kecil dan mikro kurang dimiliki oleh perbankan umum ketimbang BPR, BMT / Lembaga Keuangan Syari’ah
  • Bagi bank umum menghadapi masalah pengendalian untuk UMKM dan mikro menghadapi keterbatasan tenaga pengawas atau penagih serta biayanya.
  • Permasalahan UMKM dan mikro tidak sekedar permodalan tapi juga manajemen dan pemasaran.

Pada saat ini, pihak bank memiliki kewajiban mencantumkan realisasi KUK-nya dalam Laporan Keuangan Publikasi yang dilaporkan secara rutin triwulan pada media publikasi. Ini artinya masyarakat luas dapat ikut memantau pelaksanaan penyaluran KUK perbankan. Dilain sisi, pemberian kredit ke UMKM dapat mendongkrak citra perbankan yang bersangkutan dalam aksestabilitasnya oleh masyarakat umum.

Melihat keterbatasan teknis dalam penyaluran kredit bagi UMKM, khususnya usaha mikro, maka pihak perbankan  membutuhkan bantuan atau kerjasama dengan lembaga keuangan lainnya. Hal ini bersesesuaian pula dengan hasil Micro Credit Summit Global Campaign di Kopenhagen  pada 1995 dan di Washington pada 1997 merumuskan bahwa program pengembangan jaringan Lembaga keuangan mikro sebagai metode efektif untuk menanggulangi kemiskinan.

Kondisi Sosial

Lingkungan sosial bisnis kedepan akan diwarnai oleh beberapa isu. Kita melihat bahwa jumlah penduduk Indonesia yang luar biasa ini bagi kita adalah merupakan aset pasar yang luar biasa dan merupakan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan yang menjanjikan perusahaan untuk dapat dengan segera mencapai sekala ekonomi yang diperlukan untuk tumbuhnya perusahaan.

Jumlah penduduk dengan pendapatan yang dipengaruhi oleh kegiatan pertanian akan berkurang dan penduduk dengan penghasilan yang didapatkan dari sektor perkotaan akan bertambah, menurut BPS proporsinya 25 : 75 pada tahun 2025, sehingga jika melihat kecenderungan ini, maka mengingat tidak semua penduduk tersebut dapat diserap dalam lapangan pekerjaan formal, akan tetapi sebagian besarnya akan masuk di sektor informal seperti menjadi pengusaha mikro baik dari sektor jasa hingga industri kecil/ rumah tangga, oleh karena itu kebutuhan untuk melakukan memberikan pelayanan jasa keuangan pada pengusaha mikro menjadi suatu kemestian.

Akan tetapi, secara sosial lingkungan perusahaan diwarnai pula oleh tumbuhnya Mall-Mall, pusat perbelanjaan dan toko ritel berjaringan nasional yang pertumbuhannya menggerus peran pasar sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat. Hal ini berjalan dengan laju yang makin cepat dari tahun ke tahun.

Pergeseran ini mengharuskan pemerintah untuk melakukan perlindungan pada UMK dan  pembenahan pada tata ruang bisnis serta pencegahan dari memusatnya saluran distribusi  serta tidak kalah penting pula pembenahan terhadap pasar itu sendiri, sehingga peran pasar sebagai tempat bertemunya konsumen dan produsen serta pemenuhan kebutuhan komunitas disekelilingnya akan dapat dipertahankan dan ditingkatkan, ditambah lagi peran serta aktif untuk melakukan peningkatan kapasitas bagi UMK dengan melakukan pelatihan dan fasilitasi akses pembiayaan baik dari pemerintah maupun dunia usaha.

Kondisi Lingkungan

Meskipun dampak pemanasan global mungkin akan mempengaruhi pertanian di Indonesia, akan tetapi departemen pertanian menepis isu krisis pangan dunia itu dengan kinerja pada beras dan jagung yang pada tahun 2009 ini telah melampaui kebutuhan nasional, sementara kemampuan lahan masih dapat ditingkatkan lagi sehingga jika dikelola dengan baik maka hasil ini diperkirakan masih dapat ditingkatkan lagi hingga 17% dari hasil sekarang, apalagi jika ditambah dengan pengembangan areal penanaman baru.

Dari pemikiran tersebut diperkirakan isu lingkungan tidak terlalu berpengaruh terhadap bisnis bahkan perusahaan dapat mengambil manfaat dari adanya isu green microfinance yang didengungkan dalam sekala global dimana kerusakan lingkungan akan dapat direduksi dengan pemberian pembiayaan kepada penduduk miskin sehingga mereka dapat memanfaatkan sumberdaya alam dengan lebih baik dan terkelola, atau bahkan jika sumber pendanaan yang bersifat jangka panjang dapat diperoleh, bukan tidak mungkin jaringan yang telah dimiliki dapat diarahkan untuk menambah aksesibilitas pembiayaan pada sektor pertanian/ peternakan.

Keberadaan Teknologi

Lingkungan bisnis diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh teknologi, pengaruh tersebut datang dari dua sisi yaitu dari sisi deman dan supply. Dari sisi demand, kustomer yang menjadi pelanggan perusahaan yaitu pengusaha mikro dan BMT akan sangat dipengaruhi oleh IT. Dari sisi pengusaha mikro sedang terjadi perubahan lifestyle yang luar biasa, dimulai dari masyarakat yang tingkat mobilitasnya rendah menjadi bagian dari masyarakat global, dimana mereka dapat berkomunikasi dengan keluargannya yang menjadi buruh migran dan melakukan transaksi remittance yang mendidik mereka untuk memasuki transaksi elektronik, sehingga e-payment yang dahulu merupakan wacana maka dalam hitungan tahun kedepan hal ini akan menjadi suatu kebutuhan.

Dari sisi BMT terdapat pula perkembangan dimana dahulu tidak memerlukan transaksi antar BMT maka kedepan hal ini akan memaksa BMT untuk melakukan integrasi sistem sehingga dapat melakukan transfer, remittance dan kerjasama produk antar BMT.


B A G I A N   IV

Analisis Lingkungan Mikro


Analisis Kekuatan : Sebagai sebuah unit binis berbentuk modal ventura, PBV bisa dikatakan merupakan pionir dalam memberikan modal kerja kepada pengusaha mikro dan kecil berbasis syariah (microfinance sharia). Uniknya lagi kami meng­gunakan institusi keuangan mikro lain berbentuk Koperasi (BMT) sebagai ujung tombak penyaluran pembiayaan.

Kami menyalurkan pembiayaan melalui jaringan BMT-BMT yang direkomendasikan dan dibina oleh sebuah asosiasi yang bernama Perhimpunan Baitul Maal wat Tamwil Indonesia atau yang dikenal dengan BMT Center.

BMT Center sebagai sebuah perhimpunan telah berhasil menghimpun BMT-BMT yang telah memiliki rekam jejak yang panjang, bahkan ada beberapa BMT telah berdiri lebih dari satu dekade yang lalu.

Regulasi-regulasi yang telah dan akan dikeluarkan oleh BMT Center seperti Pedoman Akad Syariah dan Standar Kebijakan BMT yang diikuti dengan Standar Operating Prosedur (SOP) disesuaikan dengan kebutuhan khusus masing-masing BMT serta dalam waktu dekat diharapkan terdapat standarisasi akuntansi dan informasi teknologi.

Dengan pola seperti itu keamanan atas dana yang dikerjasamakan dari berbagai pihak akan lebih terjamin karena pembiayaan disalurkan melalui saluran yang tepat, dan berdasar data dan dimonitor oleh BMT Center.

Berikut ini sebaran BMT anggota BMT Center ber­dasar­kan pembagian wilayah:

Wilayah Jumlah BMT
Banten 3
Jakarta 3
Jambi 2
Jawa Barat 17
Jawa Tengah 93
Jawa Timur 9
Yogyakarta 11
Jumlah 138

Secara legal, keberadaan kami telah mendapatkan ijin operasional dari Menteri Keuangan melalui BAPEPAM-LK dengan nomor keputusan: Kep-185/ KM.10/ 2007, ter­tang­gal 25 September 2007.

Secara bisnis keberadaan kami juga telah berhasil mem­bubuhkan keuntungan dalam tiga tahun operasional, yang tiap tahunnya menunjukan trend peningkatan terus-menerus. Ditilik dari keuntungan investor, kami juga mem­berikan bagi hasil investasi yang kompetitif.

Efisiensi dan efektifitas dalam pekerjaan yang kami lakukan telah memberikan kontribusi besar dalam membuat perusahaan menjadi seperti sekarang. Salah satu yang bisa diandalkan dalam sisi efektifitas dan efisiensi tersebut adalah keberaadan Asosiasi-asosiasi BMT di daerah yang menjadi kepanjangan tangan kami dalam mengambil keputusan pembiayaan dan im­ple­men­tasi­nya pada kerangka teknis.

Analisis Kelemahan : Sumber dana yang masuk kepada kami lebih banyak merupakan sumber dana yang berasal dari sektor perbankan. Meskipun dana tersebut merupakan dana “mahal”, akan tetapi dapat diandalkan untuk segera meningkatkan portofolio usaha, oleh karena itu perusahaan memantapkan langkah untuk melakukan sinergi pembiayaan dengan perbankan.

Meskipun kerjasama sinergis dengan perbankan tersebut makin menemukan formatnya, akan tetapi kami menyadari bahwa kami perlu untuk memperluas  jaringan investor kami yang pada saat ini kurang me­madai.

Dengan networking yang semakin bertambah dan kinerja yang makin bagus diharapkan makin meningkatkan kepercayaan, dengan ditandai bertambahnya  investor perorangan/ Angel Investor sehingga dapat melengkapi sumber dana yang ada dan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Analisis Peluang : Peluang bisnis di sektor keuangan mikro bak samudera biru yang menghampar luas. Angka pembiayaan di angka Rp. 20 juta masih dirasakan kurang padahal kebutuhan modal usaha, maupun investasi di angka tersebut masih sangat besar.

Sebagai pionir kami melihat hal ini sebagai peluang kami, di saat hampir semua pembiayaan sektor mikro yang berbasis perbankan masih kesulitan menembus pasar tersebut, kalaupun ada mereka kesulitan melakukan menejemen dan maintenance.

Analisis Pesaing : Hingga saat ini telah banyak lembaga keuangan (bank maupun non bank) yang membidik pangsa pasar yang sama dengan kami dan mencoba untuk mendekati BMT.

Posisi kami dalam menempatkan lembaga keuangan tersebut adalah sebagai cooperatif competitor (Co-Competitor). Dimana pada tahap-tahap tertentu memang terjadi persaingan dalam hal memberikan layanan, namun juga ada banyak hal yang dapat dikerja­sama­­kan.

Bahkan, bagi kami hal tersebut justeru menjadi peluang. Apabila perbankan akan membuka market mikro biaya yang akan mereka keluarkan akan menjadi mahal. Terutama dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang sanggup berkomunikasi dengan pengusaha mikro dan kecil dengan baik atau microfriendly. Oleh karenanya, kami mencatat kata kuncinya adalah menjalin sinergi.

Beberapa lembaga keuangan dapat disebut antara lain:

  1. Bank-bank Syariah (baik Bank Umum Syari’ah maupun unit Syari’ah);
  2. Permodalan Nasional Madani (PNM) dengan berbagai turunan lembaganya;
  3. Bank Danamon dengan UMKM Centre-nya;
  4. Bank BRI dengan Central Development for Small Medium Enterprise (SDSME) kerjasama dengan PT Telkom dan Kadin;
  5. Pegadaian dengan Kredit Usaha Mikro (KUM);
  6. Perusahaan Ventura lain.

Meskipun dapat dikatakan bahwa persaingan di bidang pembiayaan mikro secara umum sangat ketat. Namun kami tetap memiliki ruang market yang terbuka lebar. Mengapa demikian?

Pada dasarnya, tingkat persaingan antar lembaga keuangan lebih banyak terjadi pada tingkat Price Dana yang ditawarkan serta Layanan yang diberikan. Sementara kami lebih mendasarkan competitive advantage yaitu dari sisi konteks yang kami miliki. Seperti antara lain:

  1. Kami telah memiliki modal sosial melalui kerjasama strategis dengan BMT Center yang juga merupakan salah satu stock holder perusahaan.
  2. Sistem pembiayaan yang dikembangkan secara profesional melalui sistem keanggotaan dan kerja sama yang saling menguntungkan.
  3. Kami –melalui BMT Center— merupakan lembaga usaha yang diusung dan didirikan dari bawah, hal ini dapat dilihat bahwa para Pendiri dan juga Direksi adalah merupakan  tokoh-tokoh BMT dan profesional yang berpengalaman dalam mengelola lembaga keuangan mikro syariah.
  4. Pelayanan pembiayaan yang akan dikembangkan bersifat integral; artinya, tidak hanya diberi pembiayaan, tetapi juga pendampingan dan atau jasa manajemen.
  5. Pola pendekatan yang digunakan juga meng­gunakan pola bottom up, sehingga lebih meng­akar.
  6. Tingkat bagi hasil (Price) pembiayaan kami  yang kompetitif karena kami bisa lebih efektif dan efisien dalam menjalankan bisnis karena jaringan yang kami miliki.
  7. Service yang lebih baik (contex) dalam artian me­ne­kan­kan pada bagaimana melayani Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) dalam hal ini BMT, dan mengembangkan Kemampuan utama (core competency) yang dimiliki yaitu kemam­puan untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh BMT.

Karenanya, apabila ada dukungan modal yang memadai maka kami optimis dapat masuk ke segmen market mikro dan kecil melalui BMT minimal sebesar 80% dari total BMT yang ada di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jabodetabek.

B A G I A N   V

Proyeksi dan Rencana Bisnis 2010

eskipun kondisi ekonomi di 2009 banyak yang memprediksi akan semakin memburuk. Justeru kinerja keuangan kami dinilai cukup memuaskan terutama apabila dikaitkan dengan bisnis di sektor keuangan. Pada kenyataannya 2009 kami tutup dengan pertumbuhan sebesar 48,6%.

Dalam menatap tahun 2010 kami mempunyai keyakinan yang sama bahkan lebih dengan tahun sebelumnya. Bahwa kami akan tumbuh lebih besar lagi dari tahun sebelumnya. Keyakinan ini kami dasarkan atas dua argumentasi yang telah dipaparkan di dalam bab-bab sebelumnya, yakni; kondisi makro ekonomi Indonesia relatif lebih stabil, dan cenderung akan banyak stimulus yang diarahkan pada masyarakat dan akan menambah cash inflow pada ruang usaha mikro. Di samping itu dari sisi coverage kami melihat bahwa  pangsa sektor keuangan mikro yang menjadi core competence kami masih sangat terbentang luas.

Di 2010 kami membuat proyeksi dan rencana bisnis guna memantapkan positioning kami sebagai tempat yang benar dan tepat sebagai tempat investasi atau yang biasa kami sebut pada tagline kami be bright, be right your invesment.

Inisiatif program kerja akan kami bagi dalam dua bagian besar yaitu Pencapaian (outreach), proyeksi keuangan, dan Sumer Daya Insani.

Pencapaian (Outreach)

  1. AKSESIBILITAS, Pada tahun 2010 ini kami ingin meningkatkan aksesibilitas pembiayaan dengan mengutamakan pembiayaan modal kerja kepada usaha mikro dan kecil menjadi sejumlah 10.302 pengusaha sehingga meningkat 22% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 8, 388 pengusaha, dengan rata-rata pembiayaan per portofolio Rp. 5.000.000-an.

  1. RISK MITIGATION, pada awal tahun ini telah dilakukan penandatanganan kerjasama dengan Asosiai BMT Daerah baik di tingkat Propinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota. Kerjasama ini memiliki tujuan untuk memperkuat supporting bagi pembiayaan kami ke sektor mikro dan kecil melalui BMT. Sehingga pembiayaan yang diberikan bisa lebih cepat, efektif, dan tingkat resiko terjaga di tingkat minimal.

Dalam kesepakatan kerjasama tersebut menyepakati bahawa pada di tiap-tiap Asosiasi Daerah tingkat Kabupaten/ Kota terdapat Representatif Area Daerah yang bertugas untuk melakukan supporting pembiayaan, sekaligus melakukan monitoring dan evaluating. Sedangkan tugas mitigasi resiko dan pengawasan dilakukan oleh Asosiasi Daerah tingkat Propinsi atau Representatif Area Wilayah. Dengan demikian ke depan diharapkan pembiayaan akan lebih efektif, dengan resiko yang tetap terkelola dengan baik.

  1. LUAS WILAYAH KERJA, untuk meningkatkan manfaat kepada pengusaha mikro dan kecil maka di tahun 2010 kami belum merencanakan untuk membuka layanan di Propinsi yang baru. Kami ingin mengefektifkan dan lebih fokus di Propinsi yang telah ada yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.

Proyeksi Keuangan

  1. 1. ASET, Berdasarkan business plan 2009 yang telah kami susun pada Januari ini, maka kami membuat proyeksi keuangan yang dapat dijadikan acuan aktivitas bisnis kami. Seperti yang terlihat bahwa, kami memproyeksikan pada 2010 nanti besaran aset perusahaan akan meningkat sebesar 95,9% dari jumlah tahun sebelumnya Rp   31.772.339.913 menjadi Rp. 62.243.252.090.

Proyeksi peningkatan yang progresif ini didasarkan pada kinerja pada tahun 2009, dan adanya kesepakatan dengan beberapa bank syariah. Jumlah yang sudah disepakati sebesar Rp. 31.000.000.000.

Banyaknya permintaan pembiayaan dari pengusaha mikro dan kecil melalui BMT dalam pada tahun ini tidak berbanding lurus dengan pembiayaan dari bank kepada kami dengan skema channeling. Skema ini sudah mulai banyak dikurangi karena perbankan mengalihkan pembiayaannya dengan skema executing. Sehingga Off Balance Sheet diperkirakan mengalami penurunan di 2010 menjadi Rp 1.000.000.000.

Disamping dana dari perbankan, pada 2010 ini kami berencana meningkatkan  investasi dari Institusi yang peduli terhadap pengembangan usaha mikro seperti dana sosial (PKBL) dari perusahaan BUMN institusi/ yayasan pengelola dana sosial dan zakat  dan dari perorangan (Angel Investor). Mengingat keberhasilan pengelolaan dana pada tiga tahun ini ditandai pula dari bagi hasil kepada investor yang sangat kompetitif, maka kami optimistis bahwa investor lama akan menambah jumlah invetasinya dan investor baru akan masuk mempercayakan dananya di perusahaan ini.

Mengingat concern yang sama pada UMK dan kinerja kita selama ini, maka pada tahun ini kami mengharapkan dapat merintis untuk membangun kerjasama untuk penyaluran dana program pemerintah, seperti sebagai mitra penyalur dana KUR maupun dana dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dari kementrian KUKM. Akan tetapi karena masih berupa rintisan maka kami belum memproyteksikan dalam neraca tahun ini.

  1. MODAL, Sedangkan permodalan kami rencanakan pula untuk ditingkatkan hingga mencapai Rp 12.193.292.942, sehingga Capital Adeguasi Ratio (CAR) kami rencanakan menjadi 19,59%. Prakiraan peningkatan kinerja keuangan perusahaan juga dapat dilihat dari meningkatnya Dana Bank dan Investor sebesar 129,65% dari semula Rp. 21.579.046.970 menjadi Rp. 49.555.611.113.
Keterangan 2010** 2009 2008 2007
Dalam (Rp)
Asset Total 62.243.252.090 31.772.339.913 21.382.880.367 8.190.794.185
Dana Bank dan Investor 49.555.611.113 21.579.046.970 12.084.049.731 150.580.800
Outstanding 51.512.325.509 27.924.774.730 17.899.134.662 357.710.198
Modal 12.193.292.942 10.193.292.942 9.298.830.636 8.040.213.385
Pendapatan 7.560.532.279 3.549.958.231 1.691.455.841 405.572.919
Laba Sebelum Pajak & Zakat 658.958.076 361.393.961 268.080.636 28.213.385
Off balance sheet 1.000.000.000 1.319.833.333 3.047.166.666 1.600.000.000
Dalam persen (%)
CAR 19,59% 32,08% 43,49% 98,16%
NPF (Gross) 1% 1,06% 0 0
ROA 1,06% 1,14% 1,25% 0,34%
ROE 5,40% 3,55% 2,88% 0,35%
BOPO 75% 75,77% 82,93% 118,88%
FDR 115% 132% 150% 0
Jumlah BMT Dibiayai 80 60 55 32

** Prakiraan

Dengan meningkatnya dana kelolaan tersebut maka outstanding pembiayaan akan meningkat sebesari 84,47%. Sehingga pembiayaan pada tahun 2009 sebesar Rp. 27.924.774.730 menjadi Rp. 51.512.325.509 di 2010.

  1. RASIO PRODUKTIFITAS DANA, Sesuai dengan peningkatan kapasitas usaha, maka keuntungan/laba perusahaan  sebelum pajak dan zakat diproyeksikan mengalami peningkatan  sebesar 82,34% sehingga dari pendapatan yang semula Rp 361.393.961  diharapkan akan menjadi Rp. 658.958.076.

Produktifitas perusahaan dilihat dari sisi aset (ROA) akan mengalami penurunan sebesar 7,13%, hal ini dikarenakan kenaikan kapasitas usaha/ aset yang cukup besar yang terjadi pada periode triwulan III sehingga belum dapat memberikan pendapatan bagi perusahaan secara optimal. Baru akan memberikan bagi hasil optimalnya pada periode triwulan pertama tahun 2011. Akan tetapi jika diukur dari produktifitas perusahaan dilihat dari sisi modal (ROE) mengalami peningkatan 52,23% hal ini dikarenakan pertumbuhan laba yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan modal perusahaan.

Dalam upaya membangun perusahaan keuangan yang kuat, kredibel dan modern, maka kami ingin melakukan efisiensi sehingga rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) akan menurun. BOPO akan mengalami penurunan di 2010 sebesar  1,20% sehingga dari semula 75% menjadi 71%  .

Dari sisi pelayanan kami memperkirakan bahwa tahun ini kebutuhan dana pengusaha mikro dan kecil melalui BMT masih sangat besar dan melebihi kemampuan kami menghimpun dana investasi sehingga angka FDR dapat diprediksi masih akan berada di atas 100%.

Beberapa rasio keuangan juga kami proyeksikan akan mengalami perubahan. Berkaca pada pengalaman tahun silam, maka pada tahun 2010 kami berkeyakinan bahwa angka pembiayaan bermasalah (NPF) dapat kami turunkan ke angka 1%.

Untuk merealisasikan proyeksi tersebut dibutuhkan rencana strategi yang aplikatif dan saling menunjang. Adapun beberapa strategi yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:

PEMASARAN, berkenaan dengan pasar pembiayaan kami kepada pengusaha mikro dan kecil melalui BMT sebenarnya bukan merupakan isu yang krusial, mengingat perusahaan hingga tahun 2009 belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh permintaan BMT. Bahkan jika dilihat dari total kebutuhan dana dari perbankan/ lembaga keuangan, maka perusahaan kita masih memiliki ruang pasar yang cukup lebar, karena baru memenuhi kurang dari 10% kebutuhan dana Perbankan/ lembaga keuangan  yang dibutuhkan oleh 142 BMT anggota.

WILAYAH OPERASIONAL, Agar resiko dapat lebih diminimalisir, dan saat yang sama untuk memperkuat basis pemasaran, maka pada 2010 ini kami merencanakan untuk berikan pembiayaan kepada 80 BMT dengan total outstanding Rp. 51.512.325.509, dengan pengefektifan wilayah kerja pada Kabupaten/ Kota pada Propinsi-propinsi yang telah terdapat BMT mitra. Kami juga berharap terjadi peningkatan jumlah kantor BMT yang menjadi outlet, sehingga menjadi 521 kantor dengan jumlah sumberdaya manusia 3346 orang. Dengan melihat jaringan yang ada dan kinerja BMT selama ini, kami melihat platform pembiayaan yan akan dilakukan cukup kuat dan mampu untuk ditingkatkan kapasitasnya.

Dengan terjadinya peningkatan kapasitas  pembiayaan dengan dana kita tersebut, kami memproyeksikan pembiayaan kita akan memberi akses pembiayaan kepada pengusaha mikro dan kecil sebanyak 10.302 orang dengan demikian makin mendekati visi menjadi pusat pelayanan jasa keuangan kepada sektor usaha mikro, kecil dan menengah melalui BMT.

Selain itu, beberapa strategi bisa diterapkan guna mendorong kinerja keuangan dan memperluas distribusi pembiayaan menurut area Propinsi, berikut ini beberapa strategi yang bisa dilakukan antara lain:

SOSIALISASI, disadari bahwa jumlah BMT sebagai mitra yang menyalurkan pembiayaan masih belum sesuai dengan harapan, maka untuk lebih memasyarakatkan produk pembiayaan perusahaan. Untuk itu perusahaan akan membuat langkah-langkah sosialisasi yang terencana yang bekerjasama dengan memanfaatkan even-even yang dilakukan oleh Asosiasi-asosiaso BMT di Daerah.

FEE BASED INCOME, perusahaan ingin menggali peluang usaha berbasis fee based income dengan memberikan layanan package deal (pem­biayaan, jasa manajemen dan TI).

FOKUS PEMBIAYAAN, dengan melewati jaringan BMT yang telah dimiliki, kami ingin memfokuskan pembiayaan pada usaha mikro dengan portofolio pembiayaan sebesar 20 juta ke bawah.

Sumber Daya Insani

RECRUITMENT, Sebagaimana telah diketahui Sumber Daya Insani adalah aset yang utama apalagi bagi suatu perusahaan keuangan, maka selain meneruskan program pendidikan dan mengikut sertakan pada program pelatihan-pelatihan pada tahun ini perusahaan ingin menambah jumlah SDM untuk mengisi beberapa posisi yang selama ini masih dirangkap dengan SDM yang ada, recruitment dilakukan pada bulan Maret hingga Juni dan mengisi sekitar 12 pos jabatan.

AREA REPRESENTATIVES, untuk melakukan supporting berkenaan dengan data-data dan persyaratan serta pengawasan yang dibutuhkan, maka pada tahun ini diharapkan pada beberapa kabupaten dimana portofolio pembiayaan telah cukup banyak terdapat tiga orang di Representatif Area di Daerah yang bersifat sebagai fasilitator: kabupaten-kabupaten tersebut adalah Sumedang, Wonosobo, Magelang, Semarang, Klaten, Boyolali, dan Sleman.

Sedangkan untuk menjamin pengawasan yang lebih akurat, maka diharapkan pada tahun ini telah ditanda tangani kerjasama dengan Asosiasi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta untuk menunjuk tiga orang Representatif Area yang bertugas untuk melakukan pengawasan, monitoring dan evaluating terhadap jalannya pembiayaan. Bahkan pada akhir tahun jika kondisinya memungkinkan untuk propinsi Jawa Barat kita harapkan telah ditandatangani pula perjanjian kerjasama tersebut.

B A G I A N   VI

Penutup

Demikianlah Annual Report 2009 ini kami susun sebagai progress report dan acuan inisiatives program dalam pelaksanaan kerja perusahaan. Besar harapan kami informasi yang tersaji dapat dijadikan gambaran kondisi kami saat ini dan yang akan kami raih di masa-masa mendatang serta menjadi referensi bagi perbankan, insvestor personal maupun institusional, pemerintah, lembaga-lembaga penelitian yang concern pada institusi keuangan mikro syariah di Indonesia.

Dari sisi internal, semoga annual report ini juga menjadi pedoman dalam semua perencanaan program kerja dan dapat terealisasikan seperti yang diharapkan. Sehingga perusahaan ini dapat turut serta memberikan kontribusi dalam menggerakkan perekonomian nasional melalui penyaluran pembiayaan bagi sektor usaha mikro dan kecil.

sumber; Gibran

Comments are closed.